WELCOME TO MY BLOG

Selasa, 17 Juli 2012

SEMOGA RAMADHAN TAK DATANG LAGI (Sepenggal Kisah Bermakna Untuk Direnungkan)
By : Lindawati (www.annida-online.com) Akhirnya datang juga. Bulan yang dirindui jutaan umat: Ramadhan. Tapi tidak bagi Bu Rahmi. Jangankan untuk merindukan, ibu lima anak itu bahkan berharap agar Ramadhan tak pernah datang. Tapi mau bagaimana lagi, sekarang bulan itu kembali hadir. Tak ada kuasanya untuk menolak kehadiran ramadhan. Sebenarnya, Bu Rahmi tidak menyalahkan Ramadhan jika saja idul fitri tidak hadir setelahnya. Lebaran. Ini yang paling ditakutkan Bu Rahmi. Bukan takut tepatnya, tapi dia malu jika lebaran menjelang. Bu Rahmi tahu apa makna idul fitri sebenarnya. Idu fitri adalah saat di mana kita harus mengikhlaskan diri, saling meminta maaf pada sesama. Idul fitri adalah saat di mana dosa-dosa akan lebur di telapak tangan seraya mengucapkan mohon maaf lahir dan batin. Idul fitri adalah kembalinya manusia kepada kefitrahan setelah sebulan penuh menahan haus, lapar, dan berbagai gejolak nafsu duniawi selama berpuasa. Tapi itu hanya teori. Kenyataannya, di desa tempat dia tinggal, idul fitri adalah ajang untuk pamer kekayaan. Itulah yang selama ini terjadi. Seolah sudah menjadi tradisi, terjadi sejak dahulu, turun temurun. Lebaran adalah waktunya untuk menunjukkan dan memamerkan semua kekayaan dan harta benda yang dimiliki. Orangtua berlomba membelikan baju serta sepatu terbaru dan termahal untuk anak-anaknya. Saat lebaran, semua seolah menunjukkan: inilah kami, kami mampu, kami kaya, kue kami berbahan mahal, baju kami hasil impor. Dan Bu Rahmi… ia hanya istri dari seorang guru honorer yang sudah puluhan tahun mengabdi namun belum juga diangkat jadi pegawai negeri. Dengan lima anak yang harus mereka nafkahi, bagaimana mungkin mereka akan mengikuti gaya hidup warga desa lainnya? Itulah sebabnya mengapa Bu Rahmi tak pernah berharap Ramadhan datang, tak pernah berharap lebaran tiba. *** “Pak, nanti lebaran beli baju baru, kan?” si kembar, Wawan dan Wiwi, yang baru pulang bermain sore itu mendatangi bapaknya yang sedang mengupas kelapa di halaman belakang. Bu Rahmi menarik nafasnya. Itu adalah pertanyaan rutin yang diajukan anak bungsunya sejak beberapa tahun terakhir. Sejak mereka tahu bahwa lebaran itu artinya baju baru. Bu Rahmi juga tahu apa yang akan dikatakan suaminya, dia sudah hafal dialog ini sejak dahulu. Suaminya akan mengatakan, ‘Ya, nanti Bapak belikan’, maka si kembar akan melompat kegirangan. Dan saat hari H tiba, ketika mereka menagih janji itu, maka suaminya akan menjawab, ‘Maaf ya, ternyata gaji Bapak tidak cukup. Baju yang kemarin masih bagus, kan? Jika Bapak ada uang, nanti Bapak belikan yang baru.’ Dan setelah diberi (atau lebih tepatnya disogok) selembar uang seribuan, keduanya akan terdiam, bahkan melompat kegirangan sambil berlari ke warung terdekat untuk membeli permen atau makanan kecil lainnya, mereka memang masih berpuasa setengah hari saja. Tapi kini tidak, Bu Rahmi sendiri seakan tidak percaya mendengar jawaban suaminya atas pertanyaan ‘Pak, nanti lebaran beli baju baru, kan?’. “Ya, nanti kita akan beli baju baru, sepatu yang baru juga, sepatu Wawan dan Wiwi yang lama tidak muat lagi, kan?” Si kembar melompat kegirangan dan kembali bermain ke luar rumah. Pastinya kembali pada teman-temannya untuk mengabarkan hal itu. “Pak, apa Ibu tidak salah dengar?” Bu Rahmi mendekat ke arah suaminya. Suaminya tersenyum. “Ibu juga akan bapak belikan, janji, suerr!” Suaminya mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke hadapan Bu Rahmi. Persis gaya para abege mengikrarkan sumpah. “Tapi Pak….” “Pokoknya lebaran ini kita akan punya uang yang cukup. Ibu tenang saja.” “Iya, tapi uang dari mana?” Lagi suaminya tersenyum. “Bu, lebaran tahun ini kan jatuh di akhir bulan, jadi gaji Bapak bulan depan akan dibayarkan sebelum libur cuti lebaran, THR tahun ini juga naik dua kali lipat. Terus untuk arisan di sekolah, bulan ini nama Bapak yang keluar, nanti uangnya sebelum cuti lebaran juga, terus ada dana bos yang katanya akan turut dibagikan untuk menambah THR. Tidak hanya baju baru, Bu, bahkan semua gorden akan kita ganti dengan yang baru, mungkin sofa butut itu juga akan kita buang.” Mata Bu Rahmi berbinar-binar. Kabar itu benar-benar membuat matanya berkaca-kaca. Roda memang selalu berputar. Tahun ini, pada akhirnya, dia dengan lantang juga akan bisa berkata pada para tetangga, inilah saya. Ada satu hal lagi yang sebenarnya membuat Bu Rahmi berharap Ramadhan tak pernah datang. Suaminya tidak berpuasa. Untuk urusan ini hanya dia yang tahu. “Malu dong, Pak, jika ketahuan anak-anak?” begitu selalu ucapan Bu Rahmi setiap melihat suaminya mencuri-curi menghisap sebatang rokok di siang Ramadhan. Tapi suaminya seperti tanpa ada dosa dan beban. “Bapak sanggup tidak makan dan tidak minum berbulan-bulan, Bu. Tapi rokok? Bapak tidak bisa berpisah.” “Tapi ini ramadhan, Pak. Haram hukumnya memasukkan sesuatu ke mulut dalam bulan ini.” “Cuma rokok kok, Bu. Tidak mengenyangkan, tidak juga menghilangkan haus,” suaminya sangat pandai beralasan. Tapi sungguh, itu bukan merupakan alasan. Selain tidak puasa, suaminya juga tidak melaksanakan shalat. Tapi saat shalat tarawih dia selalu berada di barisan pertama. Tak hanya itu, suaminya adalah seorang pengurus masjid. Benar-benar tidak ada yang tahu seperti apa suaminya sebenarnya. Setahu Bu Rahmi, setan-setan selama Ramadhan dibelenggu. Hal itu selalu didengarnya setiap tahun. Selalu ada saja penceramah yang mengatakan hal itu setiap bulan Ramadhan. Dan tentu saja, Bu Rahmi tidak bisa mempercayai hal itu. Jika setan memang dibelenggu, lalu bagaimana mungkin suaminya masih bersikap seperti itu? Jika amalan baik dilipatgandakan pahalanya di bulan Ramadhan, Bu Rahmi juga yakin kalau amalan buruk ganjarannya akan dilipatgandakan. Makanya, Bu Rahmi selalu berdoa dan berharap semoga Ramadhan tak datang lagi. Dosa suaminya pasti sulit diampuni. *** Handphone di atas meja dapur berdering saat Bu Rahmi sedang asyik memasak kolak pisang untuk berbuka nanti. Bergegas Bu Rahmi meraihnya. Dari suaminya. “Assalamualaikum, ada apa, Pak?” “Bu, alhamdulillah, Bapak sudah terima uang seperti yang minggu lalu Bapak bilang. Mulai besok sekolah juga sudah sudah libur. Tapi nanti sepulang dari sekolah, Bapak tidak pulang ke rumah. Bilang sama anak-anak, Bapak mau ke tempat Nenek mereka. Takut besok-besok sudah tidak sempat. Kalau mau, Bapak akan ajak Neneknya anak-anak berlebaran bersama kita, kalau tidak, Bapak hanya mengantarkan uang belanja saja, besok atau lusa Bapak pulang. Bilang juga sama anak-anak kalau tahun ini semua dapat baju baru. Ibu juga, persiapkan tenaga untuk buat kue, lebaran tinggal seminggu lagi.” Bu Rahmi tersenyum bahagia. Telepon sudah ditutup suaminya, tapi percakapan tadi terus terngiang di telinganya. “Bu, ada apa? Dari tadi senyum-senyum terus,” Lina, anak sulungnya yang tahun kemarin tamat SMA, memergoki Bu Rahmi yang sedang tersenyum sambil mengaduk kolak di periuk. "Ibu kan lagi masak, jika kita masak dengan cinta dan senyuman, hasilnya pasti jauh lebih enak,” Bu Rahmi memandang ke arah Lina yang tentu saja bengong. Tumben, ini Ibu atau bukan? Gak biasanya? Lina mengerutkan dahinya. “Ibu bahagia sekali, ada apa?” Lina yang tahun ini menganggur karena tidak lulus SPMB itu duduk di samping ibunya. “Tahun ini, Bapak dapat rezeki berlebih, jadi kita semua akan dibelikan baju baru. Tahun ini kita juga akan membuat aneka macam kue seperti punya tetangga.” Lina tersenyum. Mereka berpelukan. Si kembar Wawan dan Wiwi yang baru datang melongo menyaksikan. *** Ternyata, semua itu tidak bohong! Dua hari kemudian, suaminya pulang ke rumah dengan membawa barang belanjaan teramat banyak. Satu becak disewa buat mengantar belanjaan suaminya ke rumah. “Ya ampun, Bapak, belanja sebanyak ini mengapa tidak ngajak-ngajak?” Bu Rahmi masih bengong melihat belanjaan Bapak yang sudah diangkut ke dalam rumah. Suaminya hanya tersenyum sambil mengeluarkan satu persatu barang belanjaan itu dari kantongnya. Kantong plastik besar pertama berisi gorden baru berwarna hijau, warna kesukaan ibu. Ada juga sarung bantal dan sprei yang baru. Kantong plastik kedua berisi masing-masing dua pasang baju baru untuk Wawan dan Wiwi, sepatu dan sandal yang baru, juga beberapa mainan yang tentu saja bukan mainan yang dibeli di toko serba lima ribu. Kantong plastik --> --> berisi lima botol sirup yang berbeda warna, lima kilogram gula, tepung terigu, dan beberapa peralatan membuat kue lainnya. Lalu di kantong yang lain, suaminya mengeluarkan beberapa helai sarung, juga baju koko baru buatnya. Masih ada lagi satu kantong plastik besar, berisi kue-kue kering di dalam kaleng yang sudah disusun dengan cantik. ”Ini hanya tambahan. Ibu, Lina, dan Leni silakan buat kue lain yang Ibu suka,” begitu katanya saat mengeluarkan kue-kue kering dalam toples kecil itu. Bu Rahmi diam, melongo. Tidak tahu harus mengatakan apa. Matanya berkaca-kaca. Tahun ini, mereka berlebaran juga. ”Oh ya, baju untuk Ibu, Lina, Leni dan Samsul belum bapak belikan. Nanti biar mereka saja yang beli sendiri ke pasar. Bapak takut nanti ukurannya tidak pas. Untuk Ibu juga. Sebaiknya Ibu pilih sendiri model yang Ibu sukai. Bapak hanya belikan ini buat Ibu, semoga muat,” suaminya kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong. Begitu melihatnya, Bu Rahmi semakin tidak bisa berkata-kata. Sebuah cincin emas bermatakan merah marun berbentuk hati! ”Bu, kok bengong! Ayo diangkat belanjaannya ke dapur, baju-baju ini dimasukkan dulu dalam lemari.” ”Bapak haus? Ibu ambilkan minum, ya?” kata-kata itu yang akhirnya keluar dari mulut Bu Rahmi. Suaminya mengangguk. Lalu menyusul Bu Rahmi ke dapur. ”Bapak minum di sini aja, nanti ada yang lihat,” inilah untuk pertama kalinya Bu Rahmi mengikhlaskan suaminya minum di siang hari ramadhan. *** Besok lebaran tiba. Hari yang selama bertahun-tahun ini paling ditakutkan Bu Rahmi, sekarang menjadi hari yang paling ditunggu-tunggunya. Tahun ini Ramadhan benar-benar menunjukkan berkahnya pada Bu Rahmi. Untuk pertama kalinya, Bu Rahmi berharap semoga setiap bulan adalah bulan Ramadhan. Sungguh menyenangkan. Rumah mereka sekarang terlihat sangat indah. Gorden jendela yang entah sudah berapa tahun tidak diganti, sekarang sudah dipasang yang baru. Sofa butut yang sudah tidak nyaman lagi diduduki juga sudah diganti dengan yang baru. Halaman tampak sangat bersih. Kaca-kaca licin mengkilat. Aneka jenis kue sudah berderet rapi dalam lemari, toko kue sepertinya kalah. Tok... tok... tok... Seseorang mengetuk pintu depan. Bu Rahmi yang sedang menikmati empuknya sofa baru yang dibelikan suaminya, sedikit kaget. Dia melirik ke luar. Ada tiga orang lelaki yang sedang berdiri di depan rumah. Teman suaminyakah? Bu Rahmi memang sedang sendiri. Tadi pagi suaminya mengatakan mau menjemput Ibunya di desa sebelah untuk diajak berlebaran bersama. Lina, Leni dan Samsul pergi ke pasar mencari baju lebaran buat mereka kenakan besok. Wawan dan Wiwi seperti biasa pergi bermain. Bergegas Bu Rahmi membukakan pintu. “Cari siapa, ya, Pak?” sapa Bu Rahmi begitu pintu depan terbuka. Ketiga orang lelaki tegap itu memperhatikan Bu Rahmi dengan seksama. “Maaf, apa betul ini rumahnya Pak Karim?” “Ya, betul, saya istrinya. Ada apa? Bapak-bapak ini siapa? “Kami dari kepolisian ditugaskan menangkap suami Ibu, karena dia adalah salah seorang tersangka yang ikut melakukan perampokan toko emas seminggu yang lalu.” Tubuh Bu Rahmi menggigil seketika. Seluruh persendianya terasa lemas. Suaminya merampok toko emas seminggu yang lalu? Secepat kilat Bu Rahmi mencoba mengkalkulasikan semuanya. Baju dan sepatu baru, sofa, gorden, cincin emas, kebutuhan dapur, belum lagi ratusan ribu yang masing-masing diserahkan padanya, Lina, Leni dan juga Samsul. Tidak mungkin gaji, tunjangan hari raya, arisan ataupun tambahan dari dana bos sanggup membeli semua itu. Bu Rahmi menyadari sendiri kebodohannya. Dalam hati Bu Rahmi berdoa, tahun depan, semoga ramadhan tak datang lagi...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar