WELCOME TO MY BLOG

Selasa, 14 Desember 2010



Antara Kesetiaan dan Kebohongan

Cinta dirawat dan dipertahankan bukan saja oleh kejujuran, melainkan
juga oleh kebohongan-kebohong an kecil, yang tak dapat diungkapkan, yang
terpaksa disimpan untuk kebaikan.

"Plakk!!" Tamparan keras mendera pipi kiri Ricky, yang wajahnya masih
pias,terkejut dengan kedatangan Ima, kekasihnya. "Jadi, begini ya kerjaan
kamu distudio? Bersama perempuan lain?!" pekik Ima. Ia marah. Tapi lihatlah
matanya, basah.

Ricky panik. Ia tergeragap, kehilangan kata-kata. "Ya.. mem.. memang
begini ini, begini kerjaku?" Dan dia makin pucat ketika melihat lelaki di
belakang Ima, pria tinggi-tambun, Danu, ayah Ima, calon mertuanya. Di belakang
dan di samping Danu, tampak Yulia Rachman yang tersenyum, dan Joe Richard yang
cengengesan. Ricky bahkan seperti tak menyadari Uya yang telah berjaga
disampingnya. Perlu beberapa waktu sampai Ricky menyadari apa yang tengah
menimpanya. Ia sempat tampak emosi, dan mengacungkan telunjuknya pada
Joe Richard, tapi Uya menghelanya ke luar studio. Sebelum berlalu, kata-kata
Danu masih menghajarnya, "Hey, jangan pernah lagi berani kau injak
rumahku!!"

Begitulah klimaks "Playboy Kabel" Sabtu (2/9), *reality show* yang
berusaha "membuka" kegombalan pasangan cinta sang "pelapor". Dan, tayangan Sabtu
itu terasa istimewa, karena untuk kali pertama, pelapor adalah orang tua
dari pasangan yang tengah berpacaran, Danu. Biasanya, kecurigaan datang dari
salah satu pasangan, dan bukan orang tua. Tapi Danu berbeda. Dia menilai
Ricky tak pantas untuk Ima. "Saya pernah melihatnya bersama perempuan
lain di mal," adunya pada Yulia Rachman. Dan untuk membuktikan ketaksetiaan
itulah, dia mengajak Ima menghubungi "Playboy Kabel". Dan "terbukti",
Ricky memang "tak setia". Yulia mengamini keyakinan Danu itu, dengan "firasat
orang tua memang banyak benarnya."

Godaan Bohong

Sebagai *reality show*, "Playboy Kabel" sejauh ini berhasil membuktikan
asumsi umum bahwa lelaki memang makhluk yang paling tidak dapat
dipercayai.99% dari lelaki dan perempuan yang diuji "setia" dalam tayangan itu,
gagal.Lucunya, kegagalan itu nyaris dengan alasan yang sama. Kepada sang
penggoda,mereka mengaku belum memiliki pasangan. Padahal, di ruangan lain,
pasangannya tengah menatap kamera tersembunyi, dan menangis, melihat
ketidaksetiaan itu dipertontonkan. "dasar cowok tidak tahu diuntung!"umpat salah seorang pelapor.

Dalam tayangan itu juga, kadang tersibak beberapa kasus yang "ajaib".
Lelaki yang ternyata *nyambi* menjadi gigolo, hanya ingin mendapatkan harta
dari pasangannya, atau bahkan yang ternyata gay. Realitas ini kadang membuat
penonton terperangah. Apalagi melihat "Pelapor" tersedu menyadari
kekasihnya ternyata seorang gigolo, mata duitan, atau diam-diam, gay. Namun di luar
kamera "Playboy Kabel", kesakitan tentu milik para lelaki yang terungkap
"motifnya" itu. Andy yang gay misalnya, seperti apa dia menjalani
hidupnya kemudian, ketika kamera menayangkan pengakuan tentang orientasi seksnya
itu.Pasangannya pun, setelah keterungkapan, dan kelar dari kejut, memeluknya
dan menangis. Barangkali ia sedih karena mencintai lelaki yang ternyata gay.
Barangkali juga, ia menyesal, telah membuka orientasi seksual lelaki
yang dia cintai itu kepada publik, yang sampai saat ini menganggap ke-gay-an
adalah sebuah aib. Padahal, "Pelapor" mengungkap jati diri pasangannya
secara detil, mulai nama, kuliah di mana, sampai tempat tinggal. Kamera
yang acap *close-up* pun membuat penonton dapat mengingat wajahnya. Sekarang,
bayangkan akibat untuk kasus lelaki yang terungkap sebagai gigolo?

Lucunya, "Playboy Kabel" telah membuat tiga kategori untuk para "pemain"
dalam tayangan ini. Pertama adalah "pelapor", lalu "korban", dan
"penggoda". Penggoda, dengan arahan tim "Playboy Kabel" akan merancang skenario
untuk menguji kesetiaan "korban". Namun, yakinlah, seluruh struktur acara ini
seakan menegaskan satu tujuan, "penggoda" harus berhasil menjalankan
misinya. Maka, penggoda wajib lebih cantik dan seksi daripada "pelapor".
Lebih genit, dan sangat agresif. Keagresifan yang dapat disamakan dengan
gaya pedagang asongan menjajakan barang. Bayangkanlah!

Kasus Ricky misalnya. Penggoda bertubuh sangat sintal, dan wanita
matang, berbeda jauh dari Ima. Sangat agresif, manja, bicara dengan
mendesah-pasrah,bahkan tak risi memberikan ciuman. Agresivitas yang bukan saja dapat
mengguncang kesetiaan, melainkan juga struktur iman. Jika Ricky tergoda,
dan saat ditanya mengaku belum memiliki pacar, bukan sesuatu yang
mengejutkan.
Kebohongan Ricky adalah jenis kebohongan yang lahir dari "situasi" yang
memang diciptakan, dan "memaksanya" . Kebohongan yang, mungkin, lahir
lebih bukan sebagai upaya mencari keuntungan diri semata. Karena, di depan
perempuan yang demikian agresif, pasrah, mengaku suka, dan ketika dia
bertanya, "kamu punya pacar, *nggak*", lelaki mana pun akan berpikir dua
kali untuk menjawab, "punya!" Pikiran pertama adalah, kalau dijawab
jujur,tentu perempuan ini akan kecewa, malu, dan terluka. Kelak, lepas dari
situasi ini, akan bisa dijelaskan semuanya. Pikiran kedua, "Masa sih
*gue*harus jujur di depan kesempatan yang tidak akan datang dua
kali??" Itu kebohongan situasional. Dalam kondisi itu, kebohongan tidak
mengindikasikan bahwa Ricky telah mendua hati, dan tak lagi cinta pada Ima. Kebohongan
yang lahir karena jebakan, sepatutnya dimaafkan.

Persoalannya akan berbeda tentu, jika seorang perempuan yang seperti
Ima,datang tanpa pendekatan yang intens dan agresif, lalu bertanya pada
Ricky,apakah dia memiliki kekasih. Jika situasinya seperti itu, Ricky pasti
menjawab jujur. Kejujuran yang juga diciptakan oleh situasi. Itulah
sebabnya, "Playboy Kabel" telah menerakan label "Korban" untuk si
terlapor.Label yang sudah diciptakan bahkan sebelum terungkap "kebohongan"
situasional tadi. Ricky dan lelaki lain yang pernah menjadi terlapor,
adalah korban. Dan seharusnya, simpati untuk mereka, yang dijebak dalam situasi
yang direkayasa, untuk memaksa mereka berbohong.

Makna Setia

Sebagai *reality show*, "Playboy Kabel" memang berpihak pada realitas
yang selama ini dipercayai, lelaki adalah makhluk yang tidak setia. Karena
itu jugalah, kesetiaan pada pasangan diukur dengan parameter yang sangat
sederhana, kejujuran. Jika kejujuran berhenti, kesetiaan pun padam.
Cinta pun usai. Padahal, kesetiaan seperti inilah yang dikecam filsuf cinta
Gabriel Marcel. Bagi Marcel, kesetiaan bukanlah aktivitas yang tidak
mengenal henti. Bukan pula ketahanan menghadapi godaan. Marcel dalam
*HomoViator: Introduction to A Metaphysic of Hope* mengatakan, "seseorang
disebut setia jika memiliki kehendak untuk terus memelihara hubungan pribadinya
dengan orang lain. Sikap setia itu dia tunjukkan untuk terus memperbarui
komitmen kesatuannya dengan orang lain." Itulah yang oleh Marcel disebut
kesetiaan yang kreatif, yang tetap teguh dan mampu menciptakan kembali
ikatan persatuan yang mungkin telah retak. Kesetiaan adalah kekuatan
untuk menjaga, membimbing, menghadirkan ikatan, ketika ada komitmen yang
terciderai. Di situlah tampak, kesetiaan tidak otomatis gugur hanya
karena sebuah kebohongan karena ukurannya adalah keinginan untuk tetap terikat
selepas kebohongan itu terungkap.

Nah, jika mengikuti pendapat Marcel, ujian kesetiaan justru lebih pada
pihak "pelapor" daripada "korban". Apakah si pelapor masih setia untuk tetap
memperbaharui keterhubungan dan ikatan itu, ketika dia melihat
pasangannya"berbohong". Kesetiaan adalah energi maaf yang berusaha menarik kembali
pasangan kita untuk berada di dalam komitmen yang sama, seperti
sebelumnya.Kesetiaan adalah kebersediaan untuk menerima kembali "sang korban".

Tampaknya, ukuran kesetiaan Gabriel Marcel ini yang paling tepat untuk
menilai "Playboy Kabel". Apalagi, tidak hanya lelaki, perempuan yang
menjadi"korban" pun selalu gagal di acara ini. Tergoda lelaki yang lebih
tampan,kaya, dan romantis. Artinya, dengan melihat betapa sedikitnya persentase
"kejujuran" yang dapat dibuktikan dalam acara itu, dapat ditarik
kesimpulan bahwa kebohongan adalah sebuah hal yang menjadi mungkin ketika seseorang
didudukkan dalam kondisi tertentu. Dan kebohongan situasional itu tidak
pararel dan cocok sebagai ujian kesetiaan. Karena, saya percaya, jika
Pak Danu, ayah Ima yang dijadikan "korban" dan digoda, dia pasti akan
bertindak lebih jauh daripada yang dilakukan Ricky.

Maka, masalahnya tidak terletak pada "sang korban", melainkan pada
rekayasa yang membuat sebuah dusta terpaksa tercipta. Karena, cinta dirawat dan
dipertahankan bukan saja oleh kejujuran, tapi juga oleh
kebohongan-kebohong an kecil, yang tak dapat diungkapkan, yang terpaksa
disimpan untuk kebaikan...

from : http://donalyoan.multiply.com/

1 komentar: