WELCOME TO MY BLOG

Selasa, 06 April 2010


MEMBANGUN KELUARGA GEMAR BERSEDEKAH

Apabila seorang hamba itu dikehendaki Allah menjadi orang baik, maka orang tersebut dIgunakan Allah untuk memenuhi kebutuhan orang banyak.[HR. Abu Manshur Dailami].

Kebutuhan manusia tidak terbatas. Demikian yang sering dirasakan kebanyakan orang. Buktinya, meski penghasilannya sudah naik dari sejuta menjadi lebih sejuta, masih saja mengeluh kalau banyak kebutuhan keluarganya yang belum terpenuhi; biaya pendidikan anak, ongkos ke sehehatan, dan pembayaran rekening ini dan itu. Akibatnya ia masih harus pontang-panting ke sana ke mari mrncari pekerjaan tambahan untnk mencukupi kebutuhan.
Kemudian saat penghasilannya naik, ternyata 'pengeluarannya' menyesuaikan juga. Yang semula makan cukup di warung tenda pinggir jalan, sekarang merasa sudah tidak nyaman lagi. Seleranya naik, yaitu harus mampir ke rumah makan. Tentu saja pengeluarannya menjadi lebih banyak.
Pakaian, HP, dan kendaraan juga ikut berubah lebih mewah. Istri meminta beli perhiasan kalaung emas yang lebih besar lagi. Alat-alat permainan untuk anak-anak juga lebih mahal. Pengeluaran pun membengkak. Akibatnya penghasilan dirasa belum mencukupi juga. Kerja lagi lebih keras, tapi belum cukup juga. Demikian seterusnya. Yang ada adalah kurang dan kurang. Saat diminta menyisihkan sebagian hartanya untuk berinfaq peduli dhuafa, bagaimana reaksinya? "Mana mungkin saya akan menyisihkan untuk itu, sedangkan untuk keluarga saja belum cukup." Jawabnya minta dipahami. Tapi benarkah kebutuhan kita tidak terbatas ? Bagaimana agar kita bisa mencukupi kebutuhan dengan baik, bahkan bisa menyisihkan untuk belanja di jalan Allah ? Tidakkah kita takut terlambat kedahuluan maut menimpa kita? "Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa'at." (QS.A1-Baqarah: 254.)

Jangan Serakah
Persepsi bahwa kebutuhan tidak terbatas bisa membuat kita menghalalkan segala cara. la tidak bisa membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan. la paksakan diri memenuhi semua keinginan. Akibatnya sebanyak apapun harta yang dimiliki, masih terasa kurang juga karena keinginan memang tidak terbatas.
Demikian pula demi meraih kemewahan duniawi, ia tidak mempedulikan halal dan haram. Inilah kerusakan agama seseorang akibat terlalu cinta dunia. Rasulullah sudah mengingatkan bahayanya hal ini.
"Tidak ada dua ekor serigala yang buas yang dikirimkan ke tempat kelompok kambing akan lebih banyak membuat kerusakan di situ melebihi kerusakan agama seseorang muslim yang ditimbulkan oleh terlampau cintanya seseorang kepada kehormatan, harta, dan pangkat" (HR.Tirmidzi).
Sebenarnya boleh saja orang menjadi kaya raya, harta berlimpah. Para Rasul dan para Sahabat juga banyak yang kaya raya. Nabi Sulaiman contoh Rasul yang dianugrahi kekayaan sangat banyak, bahkan kerajaan yang besar. Abdurrahman Bin Auf, seorang sahabat utama, termasuk saudagar dengan harta melimpah. Yang harus diwaspadai adalah jangan jiwa ini diperbudak oleh keserakahan.
Orang yang terhinggap penyakit serakah, kalau punya uang berlimpah, yang dipikirkan pertama bukannya yang bisa ia bagi untuk mereka yang kekurangan. Tetapi bagaimana uangnya bisa kian banyak. Kalau ada tetangga miskin yang datang meminta tolong untuk biaya berobat, malah dijadikan kesempatan memperkaya diri. Bukan berniat menolong, tapi untuk memerasnya. Dia meminta jaminan sertifikat atau apa saja. Dan uangnya haru dikembalikan dengan beranak pinak alias riba. Saat orang miskin itu kesulitan mengembalikan karena terjerat rentenir, tak ada pilihan kccuali menyerahkan asetnya itu. Astaghfirullah...
Dalam dosis yang lebih kecil, keserakahan mungkin tidak langsung merugikan orang lain seperti itu. Persepsi bahwa kebutuhan tidak terbatas mengandung semangat keserakahan. Akibatnya, seperti tertulis di depan, setiap bertambah penghasilan, tidak membuat kita berbagi, tetapi justru menuruti selera duniawi. Sibuk memoles kemewahan, padahal ada saudara yang kita kelaparan.
Tenangkan hati dan jernihkan pikiran. Bertanyalah dengan jujur pada diri sendiri, inikah sikap yang sesuai hati nurani kita? Tegakah kita membiarkan saudara kita yang lemah? Ingatlah kita akan kembali kepada Allah. Apa yang kita bawa saat kita terbungkus kain kafan berkalang tanah di liang lahat?
Harta kekayaan dan kemewahan akan tertinggal. Hanya infaq dijalan Allah itulah yang akan menyertai seorang hamba menghadap-Nya.

Programkan
Untuk memberdayakan diri mampu berinfaq, tanamkan dalam hati bahwa sebenarnya kebutuhan kita bukannya tidak terbatas, tetapi terbatas. Makan sehari cukup tiga piring nasi. Dalam sebulan sembilan puluh piring nasi, atau sekitar sembilan kilo beras. Kebutuhan-kebutuhan lain juga bisa dihitung secara proposional.
Ingat, bedakan antara kebutuhan dan keinginan. Jadi kalau saat ini kita sudah punya cadangan beras untuk makan keluarga lebih dari sembilan kilo beras perorang dan kebutuhan lainnya sudah cukup dianggarkan, sebenarnya dalam bulan ini kita sudah bisa berbagi pada mereka yang kesulitan makan.
Rasulullah suatu kali setelah sholat bukannya berdzikir seperti biasanya, tapi langsung pulang. Para sahabat pun menanyakan, ada apa? Beliau mengatakan, hari ini masih ada uang dirham di saku.
Beliau tidak ingin menahan rezeki Allah itu dan ingin segera berbagi untuk disedekahkan pada mereka yang membutuhkan. Itulah teladan yang diberikan Rasulullah.
Untuk mengikuti beliau otot-otot rohani kita mesti dilatih. Misalnya saat bulan ini mendapat penghasilan, uang itu jangan langsung masuk ke rekening kita. Tapi sisihkan dari anggaran kebutuhan kita untuk program bersedekah. Uang ini dikelola tesendiri, misal bisa dipercayakan pada istri atau anak kita. Dengan begitu secara psikis hubungan kita dengan uang itu sudah tidak terlalu kuat. Misalnya bulan ini kita programkan menyisihkan untuk bersedekah tiga ratus ribu. Saat ada program peduli dhuafa kita akan dengan mudah mengambildari uang tadi.
Anak-anak secara dini juga dilatih dengan cara seperti itu. Mereka sejak mula memang telah sengaja menyisihkan mulai dari depan. (kalau nunggu sisanya, bisa tak akan tersisa. Ingatkan: "kalau beli jajan untuk kebutuhan dan keinginan fisiknya, bersedekah untuk kebutuhan rohaninya." Dengan begitu kepedulian dan kekuatan otot berbaginya sudah terlatih sejak mula. Mereka pun akan gemar bersedekah.
Tak perlu menunggu kaya raya untuk berbagi. Ada seorang tukang becak yang penghasilannya terbatas pun ternyata bisa juga berbagi. Bagaimana ia mengelola niat baiknya itu ? Kalau memenuhi keinginan, pasti tak akan pernah cukup. Akhirnya ia memutuskan untuk berbagi yaitu selama kerja seminggu, khusus hari jum'at ia tidak meminta upah kepada penumpangnya. Saat para penumpangnya memberikan uang upah, ia menolak dengan halus. "Hari ini saya ingin bersedekah," katanya sopan.
Ya Allah betapa banyak nikmat Engkau titipkan kepada hamba. Maafkan jika selama ini hamba belum menunaikan amanah secara baik untuk hamba-hamba-Mu yang membutuhkan. Kami dzolim ya Allah. Bukakan pintu rahamat-Mu, agar kami dan keluarga, serta anak-anak kami juga memiliki kekuatan jiwa untuk berbagi seperti hamba-pilihan-Mu. Menjadi jalan kebaikan untuk memenuhi kebutuhan sesama.
GOW AE

Tidak ada komentar:

Posting Komentar