
KETELADANAN SEORANG IBU
Dalam Mewujudkan Generasi Yang Berkualitas
Keteladanan Seorang Ibu
Seorang Ibu teladan lebih dekat serta mengenal keadaan dan perkembangan putra-putrinya dari masa-masa pertumbuhan yang membutuhkan perhatian penuh, masa puber paling rawan bagi pembentukan mentalnya serta masa baligh yang harus sudah dipastikan siap menerima taktif (beban) hukum Islam dan sudah dipastikan siap bertanggung jawab atas semua perbuatannya. Kecerdasan dan pemahaman Ibu tentang Islam serta pengetahuannya yang luas tentang cara-cara pengembangan kecerdasan anak disetiap masa menjadikan anak hidup bahagia, jiwanya sehat, jauh dari berbagai penyakit (balk secara fisik maupun mentalnya) penuh percaya diri, tenang dan selalu optimis.
Ibu teladan mengerti jiwa, menghormati perbedaan karakter dan kecenderungan (bakat) putra putrinya. Tetesan kasih sayang dan ketenangannya dapat memasuki jiwa anak-anak bahkan mampu menyusup dalam jiwa yang paling tersembunyi, menyelami dunianya untuk mengembangkan kemampuan anak dengan menanamkan nilai-nilai luhur dan kepribadian Islam. Ibu akan membantu dan berusaha menghadapi permasalahan putra-putrinya secara proffesional tidak menjadikan anak manja, tapi melatih anak mandiri dan mampu bertanggung jawab atas dirinya sendiri.
Ibu teladan selalu menyempatkan dirinya bermain bercanda dan berbasa basi dengan putra-putrinya menyampaikan ungkapan-ungkapan menyenangkan, lembut tanpa pilih kasih. Anak-anak menempatkan Ibu sebagai teladan dan rujukan, tempat bertanya yang menyenangkan, hingga anak-anak tidak merasa bosan saat menerima nasehat dari Ibu, dengan kesadaran hati anak-anak akan taat menjalankan nasehat dan perintah tersebut, bibirnya pun selalu basah memanjatkan do'a untuk orang tuanya. Mereka tumbuh menjadi anak-anak yang bisa mendengar, menghargai, menghormati dan peduli dengan orang lain.
Ibu teladan selalu mengawasi pendidikan dan mengarahkan putra-putrinya dalam memilih buku bacaan, teman, kegemaran, sekolah, guru dan sarana informasi serta segala sesuatu yang mempunyai pengaruh dalam pembentukan kecerdasan dan kepribadian anak. Hal ini dilakukan dengan cara baik, tepat dan menyelamatkan serta selalu berkomunikasi dengan Bapak (suaminya). Membangun kecerdasan mendidik mental dan jiwanyha anak dengan akidah Islam. Tidak hanya menitik beratkan pada kecerdasan intelektual (Intelligence quotion) semata, tapi juga membangun, mengembangkan kecerdasan emosional (emotion quotion) dan kecerdasan spiritual (spiritual quotion) yang dimiliki anak. Karena disinilah putra-putrinya akan menjadi generasi unggul nan berkualitas yaitu menjadi sosok manusia yang taat pada Allah, orang tuanya dan mampu mengemban tugas hidupnya dengan baik.
Mewujudkan Keteladanan Seorang Ibu
Untuk mendukung dan mewujudkan sosok Ibu teladan, maka bagi kaum perempuan yang mau dan siap menjadi Ibu harus memiliki dan membekali diri dengan:
1. Memiliki kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual yang sangat berguna untuk menjadi guru profesional (pendidik pertama dan utama) bagi putra-putrinya.
2. Memiliki syaksiyah Islam (kepribadian Islam) dengan pola pikir Islam Ibu akan mampu menganalisa permasalahan putra-putrinya mencari penyebab sekaligus, menetapkan solusinya. Dengan pola sikap Islam Ibu akan memberikan keteladan, ketenangan dan mampu bersikap bijak dalam mengatasi problem putra-putrinya.
3. Menguasai konsep mendidik anak, mengenal dan mengembangkan masa demi masa pertumbuhan anak, berinteraksi, berkomunikasi dan menyelami jiwa anak sesuai dengan perkembangan masanya.
4. Kreatif dalam keterbatasan. Dapat mengembangkan metode, sarana prasarana dan peralatan lain yang menunjang, pengembangan anak tanpa membutuhkan biaya banyak karena harus menyesuaikan dengan perekonomian keluarga.
5. Berpengetahuan luas dan faham politik. Mengetahui perkembangan teknologi, informasi dan opini pemikiran di masyarakat serta mengetahui kebijakan-kebijakan pemerintah yang dapat berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung, berpengaruh positif maupun negatif pada mental anak, bingga dapat menentukan langkah-langkah yang akan ditempuh oleh Ibu untuk menyelamatkan putra-putrinya.
Mewujudkan Generasi Yang Berkualitas
Anak adalah merupakan aset generasi bangsa, suram atau cemerlangnya masa depan bangsa salah satunya ditentukan oleh kualitas pendidikan anak. Sebab disinilah awal peletakan dasar-dasar kecerdasan dan landasan kepribadian. Dasar pendidikan yang baik akan berpengaruh pada masa-masa yang akan datang dalam perjalanan kehidupan.
Dasar-dasar kecerdasan dan landasan kepribadian harus diberikan dan diasah sejak dini. Maka peran penting seorang Ibu dibutuhkan dalam pembentukan generasi unggul dan berkualitas suatu bangsa. Sebab ibu adalah sekolah pertama dan utama bagi putra-putri. Sejak dalam kandungan ibu sudah mulai mempengaruhi fisik dan mental anaknya dan ketika lahir ibu yang menggoreskan warna dalam lembar-lembar putih sang anak untuk pertama kalinya.
Namun pada faktanya tidak banyak kaum perempuan yang menyadari betapa pentingnya masalah tersebut. Status menjadi ibu rumah tangga memiliki prestis yang rendah di kalangan kaum perempuan, aktualitas dalam dunia publik dan kerja memiliki prioritas tertinggi dibandingkan persoalan pendidikan dan pembentukan mental anak, akhirnya pendidikan anak sejak usia dini banyak diserahkan pada neneknya yang notabenenya hanya memberi kasih sayang tanpa memperhitungkan pembentukan kecerdasan dan landasan kepribadian atau kepada para pembantu atau lembaga-lembaga yang dianggap bias menggantikan peran sebagai pendidik pertama dan utama. Kasih sayang ibu cukup digantikan oleh melimpahnya materi, lengkapnya fasilitas dan terpenuhinya segala keinginan anak dengan kemewahan.
Faktor lain yang berperan dalam pembentukan kecerdasan dan kepribadian (mental) anak adalah masyarakat dan Negara. Budaya masyarakat yang liberalisme telah memaksa anak-anak matang hanya secara biologis semata, maka kita dapati kalangan remaja banyak yang terjebak dalam free sex, bahkan anak-anak usia SD terlibat dalam kasus pelaku pelecehan seksual. Budaya konsumtif telah menjadikan anak-anak tidak bisa membedakan mana keinginan dan mana kebutuhan, mudah menyerah saat mendapatkan kesulitan baik di sekolah maupun persoalan persoalan kehidupannya lebih jauh membawa anak-anak terjebak kasus narkoba.
Berikutnya peran negara, kurikulum pendidikan kita saat ini menitikberatkan pada kecerdasan intelektual (Intelleigence quotion) saja, akibatnya banyak generasi berprestasi tapi rusak dan sisi moralnya. Kasus tawuran antar mahasiswa menunjukkan kaum intelektual kita bobrok mentalnya hanya mampu menyelesaikan persoalan dengan kekerasan (baca tawuran) UU PA (Undang-Undang Perlindungan Anak) dengan batasan usia anak 18 tahun telah memundurkan tingkat pemikiran dan kedewasaan anak. Opini jangan rampas kebahagiaan anak-anak dipahami sebagai hidup tanpa tanggung jawab dan setiap kenakalan bahkan kriminalitas yang dilakukan anak-anak usia SMA dianggap sebagai kewajaran (maklum masih anak-anak) tanpa perlu memberikan sanksi.
Berangkat dari kondisi diatas seorang Ibu seharusnya menyadari peran penting dan tanggung jawabnya dalam membentuk generasi berkualitas. Memahami kendala-kendala. Yang akan dihadapi sekaligus mengerti solusi yang akan dilakukan dalam mengembangkan dan memberikan dasar-dasar kecerdasan dan landasan kepribadian yang tangguh. Dia adalah Ibu teladan yang memahami tugas utamanya adalah menjadi guru bagi putra-putrinya. Ibu yang faham seruan Allah dalam Qs At-Tahrim: 6 yang artinya "Wahai manusia selamatkan dirimu dan keluargamu dari apa neraka" dan memahami seruan Muhammad Rosulullah "Surga ada di telapak kaki Ibu " Ibu teladan akan menjadikan putra-putri pertama diantara manusia-manusia lain, yang akan dia gosok terus kecerdasan dan kepribadiannya menjadi generasi tangguh, yang memiliki pendirian kuat tidak gampang terombang ambing oleh kondisi jaman. Putra-putrinya akan merasakan hidup di dunia ini bak disurga jika berada disamping ibunya, kasih sayangnya yang tulus, senyumnya yang ikhlas, belaian tangannya yang lembut katanya yang bijak, sorot matanya yang tegas nan hangat dan tingkah lakunya yang selalu mengandung pembelajaran dan keteladan serta bibirnya senantiasa basah dengan selalu memanjatkan do'a untuk putra putrinya. Tidak cukup disitu tetapi ibu teladan akan mampu dan berupaya memastikan putra-putrinya kelak diakhirat mendapatkan surga. Sehingga ia akan betul-betul berupaya menjadi Ibu sholikhah karena menginginkan putra-putrinya sholih dan sholihah.
Sebagai catatan terakhir, jika kaum perempuan sudah berupaya menjadikan dirinya sebagai Ibu teladan, maka untuk meringankan beban tersebut dibutuhkan dukungan budaya yang kondusif dimasyarakat serta kebijakan-kebijakan pemerintah yang mengarah dan berperan dalam mencetak generasi cerdas intelektualnya, emosionalnya dan spritualnya.
GOW AE

Tidak ada komentar:
Posting Komentar