WELCOME TO MY BLOG

Selasa, 09 Februari 2010



SUAMI PEMIMPIN BAGI KELUARGA

Awal mula kehidupan seseorang berumah tangga dimulai dengan ijab kabul. Saat itulah yang halal bisa jadi haram atau sebaliknya yang haram bisa jadi halal. Demikianlah Allah telah menetapkan bahwa ijab kabul walau hanya beberapa patah kata, tapi ternyata bisa menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Saat itu terdapat mempelai pria, mempelai wanita, wali, dan saksi, lalu ijab-kabul dilakukan, sahlah keduanya sebagai suami-istri.
Status keduanya pun berubah, asalnya kenalan biasa tiba-tiba jadi suami, asalnya tetangga rumah tiba-tiba jadi istri. Orang tua pun yang tadinya sepasang, saat itu tambah lagi sepasang. Karenanya, andaikata seseorang berumah tangga dan dia tidak siap, serta tidak mengerti bagaimana memposisikan diri, maka rumah tangganya hanya akan menjadi awal berdatangannya aneka masalah. Ketika seorang suami tidak sadar bahwa dirinya sudah beristri, lalu bersikap seperti seorang yang belum beristri, akan jadi masalah.
Dia juga punya mertua, itupun harus menjadi bagian yang harus disadari oleh seorang suami. Setahun, dua tahun kalau Allah mengijinkan akan punya anak, yang berarti bertambah lagi status sebagai bapak. Bayangkan begitu banyak status yang disandang yang kalau tidak tahu ilmunya justru status ini akan membawa mudharat. Karenanya menikah itu tidak semudah yang diduga, pernikahan yang tanpa ilmu berarti segera bersiaplah untuk mengarungi aneka derita.
Orang yang stres dalam rumah tangganya terjadi karena ilmunya tidak memadai dengan masalah yang dihadapinya. Begitu juga bagi wanita yang menikah, ia akan jadi seorang istri. Tentu saja tidak bisa sembarangan kalau sudah menjadi istri, karena memang sudah ada ikatan tersendiri. Status juga bertambah, jadi anak dari mertua, ketika punya anak jadi ibu. Demikianlah, Allah telah menyetingnya sedemikian rupa sehingga suami dan istri, keduanya mempunyai peran yang berbeda-beda.
Tidak bisa menuntut emansipasi karena memang tidak perlu ada emansipasi, yang diperlukan adalah saling melengkapi. Seperti halnya sebuah bangunan yang menjulang tinggi, ternyata dapat berdiri kokoh karena adanya prinsip saling melengkapi. Ada semen, bata, pasir, kayu, dan bahan-bahan lainnya lalu bergabung dengan tepat sesuai posisi dan proporsinya sehingga kokohlah bangunan itu.
Sebuah rumah tangga juga demikian, jika suami tidak tahu posisi, tidak tahu hak dan kewajiban, begitu juga istri tidak tahu posisi, anak tidak tahu posisi, mertua tidak tahu posisi, maka akan seperti bangunan yang tidak diatur komposisi bahan-bahan pembangunnya, ia akan segera ambruk. Begitu juga jika mertua tidak pandai-pandai jaga diri, misal dengan mengintervensi langsung pada manajemen rumah tangga anak, maka sang mertua sebenarnya tengah mengaduk-aduk rumah tangga anaknya sendiri.
Seorang pemimpin hanya akan jadi pemimpin jika ada yang dipimpin. Artinya, jangan merasa lebih dari yang dipimpin. Seperti halnya presiden tidak usah sombong kepada rakyatnya, karena kalau tidak ada rakyat lalu mengaku jadi presiden, bisa dianggap orang gila. Makanya, presiden jangan merendahkan rakyat karena dengan adanya rakyat dia jadi presiden. Tidak layak seorang pemimpin merasa lebih dari yang dipimpin karena status pemimpin itu ada jikalau ada yang dipimpin.
Misalkan, istrinya bergelar master lulusan luar negeri sedangkan suaminya lulusan SMU, dalam hal kepemimpinan rumah tangga tetap tidak bisa jadi berbalik dengan istri menjadi pemimpin keluarga. Oleh karena itu, bagi para suami jangan sampai kehilangan kewajiban sebagai suami. Suami adalah tulang punggung keluarga, seumpama pilot bagi pesawat terbang, nakhoda bagi kapal laut, masinis bagi kereta api, sopir bagi angkutan kota, atau sais bagi sebuah delman.
Sebagai seorang pemimpin, suami pun harus berpikir bagaimana mengatur bahtera rumah tangga agar mampu berkelok-kelok dalam mengarungi badai gelombang agar bisa mendarat bersama semua awak kapal untuk menepi di pantai harapan, yaitu surga. Karenanya seorang suami harus tahu ilmu bagaimana mengarungi badai, ombak, relung, dan pusaran air, supaya selamat tiba di pantai harapan. Tidak ada salahnya ketika akan menikah kita merenung sejenak, ''Saya ini sudah punya kemampuan atau belum untuk menyelamatkan anak dan istri dalam mengarungi bahtera kehidupan hingga bisa kembali ke pantai pulang nanti?
'' Menikah bukan hanya masalah mampu cari uang, walau ini juga penting, tapi bukan salah satu yang terpenting. Suami bekerja keras membanting tulang memeras keringat, tapi ternyata tidak shalat, sungguh sangat merugi. Ingatlah karena kalau sekedar cari uang, harap tahu saja bahwa garong juga tujuannya cuma cari uang, lalu apa bedanya dengan garong? Hanya beda cara, tapi cita-citanya sama.
Buat kita cari nafkah itu termasuk dalam proses mengendalikan bahtera. Tiada lain supaya makanan yang jadi keringat statusnya halal, supaya baju yang dipakai statusnya halal, atau agar kalau beli buku juga dari rejeki yang statusnya halal. Hati-hatilah, walaupun di kantong terlihat banyak uang, tetap harus pintar-pintar mengendalikan penggunaannya, jangan main comot saja.
Seperti halnya ketika mancing ikan di tengah lautan, walaupun nampak banyak ikan, tetap kita harus hati-hati, siapa tahu yang menyangkut di pancing adalah ikan hiu yang justru bisa mengunyah kita, atau tampak manis gemulai tapi ternyata ikan duyung. Ketika ijab kabul, seorang suami harusnya bertekad, ''Saya harus mampu memimpin rumah tangga ini mengarungi episode hidup yang sebentar di dunia agar seluruh anggota awak kapal dan penumpang bisa selamat sampai tujuan akhir, yaitu surga.
''Bahkan, jika dalam kapal ikut penumpang lain, misalkan ada pembantu, keponakan, atau yang lainnya, maka sebagai pemimpin tugasnya sama juga, yaitu harus membawa mereka ke tujuan akhir yang sama, yaitu surga. Allah SWT berfirman, ''Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu'' (QS At-Tahriim: 6). Semoga kita bisa menjadi pemimpin ideal, yaitu pemimpin yang bersungguh-sungguh mau memajukan setiap orang yang dipimpinnya. Siapapun orangnya didorong agar menjadi lebih maju. Wallahu a'lam bish-shawab.

GOW AE


KETELADANAN SEORANG IBU
Dalam Mewujudkan Generasi Yang Berkualitas

Keteladanan Seorang Ibu

Seorang Ibu teladan lebih dekat serta mengenal keadaan dan perkembangan putra-putrinya dari masa-masa pertumbuhan yang membutuhkan perhatian penuh, masa puber paling rawan bagi pembentukan mentalnya serta masa baligh yang harus sudah dipastikan siap menerima taktif (beban) hukum Islam dan sudah dipastikan siap bertanggung jawab atas semua perbuatannya. Kecerdasan dan pemahaman Ibu tentang Islam serta pengetahuannya yang luas tentang cara-cara pengembangan kecerdasan anak disetiap masa menjadikan anak hidup bahagia, jiwanya sehat, jauh dari berbagai penyakit (balk secara fisik maupun mentalnya) penuh percaya diri, tenang dan selalu optimis.
Ibu teladan mengerti jiwa, menghormati perbedaan karakter dan kecenderungan (bakat) putra putrinya. Tetesan kasih sayang dan ketenangannya dapat memasuki jiwa anak-anak bahkan mampu menyusup dalam jiwa yang paling tersembunyi, menyelami dunianya untuk mengembangkan kemampuan anak dengan menanamkan nilai-nilai luhur dan kepribadian Islam. Ibu akan membantu dan berusaha menghadapi permasalahan putra-putrinya secara proffesional tidak menjadikan anak manja, tapi melatih anak mandiri dan mampu bertanggung jawab atas dirinya sendiri.
Ibu teladan selalu menyempatkan dirinya bermain bercanda dan berbasa basi dengan putra-putrinya menyampaikan ungkapan-ungkapan menyenangkan, lembut tanpa pilih kasih. Anak-anak menempatkan Ibu sebagai teladan dan rujukan, tempat bertanya yang menyenangkan, hingga anak-anak tidak merasa bosan saat menerima nasehat dari Ibu, dengan kesadaran hati anak-anak akan taat menjalankan nasehat dan perintah tersebut, bibirnya pun selalu basah memanjatkan do'a untuk orang tuanya. Mereka tumbuh menjadi anak-anak yang bisa mendengar, menghargai, menghormati dan peduli dengan orang lain.
Ibu teladan selalu mengawasi pendidikan dan mengarahkan putra-putrinya dalam memilih buku bacaan, teman, kegemaran, sekolah, guru dan sarana informasi serta segala sesuatu yang mempunyai pengaruh dalam pembentukan kecerdasan dan kepribadian anak. Hal ini dilakukan dengan cara baik, tepat dan menyelamatkan serta selalu berkomunikasi dengan Bapak (suaminya). Membangun kecerdasan mendidik mental dan jiwanyha anak dengan akidah Islam. Tidak hanya menitik beratkan pada kecerdasan intelektual (Intelligence quotion) semata, tapi juga membangun, mengembangkan kecerdasan emosional (emotion quotion) dan kecerdasan spiritual (spiritual quotion) yang dimiliki anak. Karena disinilah putra-putrinya akan menjadi generasi unggul nan berkualitas yaitu menjadi sosok manusia yang taat pada Allah, orang tuanya dan mampu mengemban tugas hidupnya dengan baik.


Mewujudkan Keteladanan Seorang Ibu

Untuk mendukung dan mewujudkan sosok Ibu teladan, maka bagi kaum perempuan yang mau dan siap menjadi Ibu harus memiliki dan membekali diri dengan:
1. Memiliki kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual yang sangat berguna untuk menjadi guru profesional (pendidik pertama dan utama) bagi putra-putrinya.
2. Memiliki syaksiyah Islam (kepribadian Islam) dengan pola pikir Islam Ibu akan mampu menganalisa permasalahan putra-putrinya mencari penyebab sekaligus, menetapkan solusinya. Dengan pola sikap Islam Ibu akan memberikan keteladan, ketenangan dan mampu bersikap bijak dalam mengatasi problem putra-putrinya.
3. Menguasai konsep mendidik anak, mengenal dan mengembangkan masa demi masa pertumbuhan anak, berinteraksi, berkomunikasi dan menyelami jiwa anak sesuai dengan perkembangan masanya.
4. Kreatif dalam keterbatasan. Dapat mengembangkan metode, sarana prasarana dan peralatan lain yang menunjang, pengembangan anak tanpa membutuhkan biaya banyak karena harus menyesuaikan dengan perekonomian keluarga.
5. Berpengetahuan luas dan faham politik. Mengetahui perkembangan teknologi, informasi dan opini pemikiran di masyarakat serta mengetahui kebijakan-kebijakan pemerintah yang dapat berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung, berpengaruh positif maupun negatif pada mental anak, bingga dapat menentukan langkah-langkah yang akan ditempuh oleh Ibu untuk menyelamatkan putra-putrinya.

Mewujudkan Generasi Yang Berkualitas

Anak adalah merupakan aset generasi bangsa, suram atau cemerlangnya masa depan bangsa salah satunya ditentukan oleh kualitas pendidikan anak. Sebab disinilah awal peletakan dasar-dasar kecerdasan dan landasan kepribadian. Dasar pendidikan yang baik akan berpengaruh pada masa-masa yang akan datang dalam perjalanan kehidupan.
Dasar-dasar kecerdasan dan landasan kepribadian harus diberikan dan diasah sejak dini. Maka peran penting seorang Ibu dibutuhkan dalam pembentukan generasi unggul dan berkualitas suatu bangsa. Sebab ibu adalah sekolah pertama dan utama bagi putra-putri. Sejak dalam kandungan ibu sudah mulai mempengaruhi fisik dan mental anaknya dan ketika lahir ibu yang menggoreskan warna dalam lembar-lembar putih sang anak untuk pertama kalinya.
Namun pada faktanya tidak banyak kaum perempuan yang menyadari betapa pentingnya masalah tersebut. Status menjadi ibu rumah tangga memiliki prestis yang rendah di kalangan kaum perempuan, aktualitas dalam dunia publik dan kerja memiliki prioritas tertinggi dibandingkan persoalan pendidikan dan pembentukan mental anak, akhirnya pendidikan anak sejak usia dini banyak diserahkan pada neneknya yang notabenenya hanya memberi kasih sayang tanpa memperhitungkan pembentukan kecerdasan dan landasan kepribadian atau kepada para pembantu atau lembaga-lembaga yang dianggap bias menggantikan peran sebagai pendidik pertama dan utama. Kasih sayang ibu cukup digantikan oleh melimpahnya materi, lengkapnya fasilitas dan terpenuhinya segala keinginan anak dengan kemewahan.
Faktor lain yang berperan dalam pembentukan kecerdasan dan kepribadian (mental) anak adalah masyarakat dan Negara. Budaya masyarakat yang liberalisme telah memaksa anak-anak matang hanya secara biologis semata, maka kita dapati kalangan remaja banyak yang terjebak dalam free sex, bahkan anak-anak usia SD terlibat dalam kasus pelaku pelecehan seksual. Budaya konsumtif telah menjadikan anak-anak tidak bisa membedakan mana keinginan dan mana kebutuhan, mudah menyerah saat mendapatkan kesulitan baik di sekolah maupun persoalan persoalan kehidupannya lebih jauh membawa anak-anak terjebak kasus narkoba.
Berikutnya peran negara, kurikulum pendidikan kita saat ini menitikberatkan pada kecerdasan intelektual (Intelleigence quotion) saja, akibatnya banyak generasi berprestasi tapi rusak dan sisi moralnya. Kasus tawuran antar mahasiswa menunjukkan kaum intelektual kita bobrok mentalnya hanya mampu menyelesaikan persoalan dengan kekerasan (baca tawuran) UU PA (Undang-Undang Perlindungan Anak) dengan batasan usia anak 18 tahun telah memundurkan tingkat pemikiran dan kedewasaan anak. Opini jangan rampas kebahagiaan anak-anak dipahami sebagai hidup tanpa tanggung jawab dan setiap kenakalan bahkan kriminalitas yang dilakukan anak-anak usia SMA dianggap sebagai kewajaran (maklum masih anak-anak) tanpa perlu memberikan sanksi.
Berangkat dari kondisi diatas seorang Ibu seharusnya menyadari peran penting dan tanggung jawabnya dalam membentuk generasi berkualitas. Memahami kendala-kendala. Yang akan dihadapi sekaligus mengerti solusi yang akan dilakukan dalam mengembangkan dan memberikan dasar-dasar kecerdasan dan landasan kepribadian yang tangguh. Dia adalah Ibu teladan yang memahami tugas utamanya adalah menjadi guru bagi putra-putrinya. Ibu yang faham seruan Allah dalam Qs At-Tahrim: 6 yang artinya "Wahai manusia selamatkan dirimu dan keluargamu dari apa neraka" dan memahami seruan Muhammad Rosulullah "Surga ada di telapak kaki Ibu " Ibu teladan akan menjadikan putra-putri pertama diantara manusia-manusia lain, yang akan dia gosok terus kecerdasan dan kepribadiannya menjadi generasi tangguh, yang memiliki pendirian kuat tidak gampang terombang ambing oleh kondisi jaman. Putra-putrinya akan merasakan hidup di dunia ini bak disurga jika berada disamping ibunya, kasih sayangnya yang tulus, senyumnya yang ikhlas, belaian tangannya yang lembut katanya yang bijak, sorot matanya yang tegas nan hangat dan tingkah lakunya yang selalu mengandung pembelajaran dan keteladan serta bibirnya senantiasa basah dengan selalu memanjatkan do'a untuk putra putrinya. Tidak cukup disitu tetapi ibu teladan akan mampu dan berupaya memastikan putra-putrinya kelak diakhirat mendapatkan surga. Sehingga ia akan betul-betul berupaya menjadi Ibu sholikhah karena menginginkan putra-putrinya sholih dan sholihah.
Sebagai catatan terakhir, jika kaum perempuan sudah berupaya menjadikan dirinya sebagai Ibu teladan, maka untuk meringankan beban tersebut dibutuhkan dukungan budaya yang kondusif dimasyarakat serta kebijakan-kebijakan pemerintah yang mengarah dan berperan dalam mencetak generasi cerdas intelektualnya, emosionalnya dan spritualnya.

GOW AE


Makna Membaca Al Qur’an

Tugas manusia yang utama di muka bumi ini adalah
beribadah kepada Allah SWT.


1.Kehebatan membaca Bismillah
Ada seorang perempuan tua yang taat beragama, tetapi suaminya seorang yang fasik dan tidak mau mengerjakan kewajiban agama dan tidak mau berbuat kebaikan.
Perempuan itu sentiasa membaca Bismillah setiap kali hendak bercakap dan setiap kali dia hendak memulakan sesuatu senantiasa didahului dengan Bismillah. Suaminya tidak suka dengan sikap isterinya dan senantiasa memperolok-olokkan isterinya.
Suaminya berkata sambil mengejek, "Asyik Bismillah, Bismillah. Sekejap-sekejap Bismillah."

Isterinya tidak berkata apa-apa sebaliknya dia berdoa kepada Allah S.W.T. supaya memberikan hidayah kepada suaminya. Suatu hari suaminya berkata : "Suatu hari nanti akan aku buat kamu kecewa dengan bacaan-bacaanmu itu."
Untuk membuat sesuatu yang memeranjatkan isterinya, dia memberikan uang yang banyak kepada isterinya dengan berkata, "Simpan duit ini." Isterinya mengambil duit itu dan menyimpan di tempat yang selamat, di samping itu suaminya telah melihat tempat yang disimpan oleh isterinya. Kemudian dengan senyap-senyap suaminya itu mengambil duit tersebut dan mencampakkan duit ke dalam perigi di belakang rumahnya.

Setelah beberapa hari kemudian suaminya itu memanggil isterinya dan berkata, "Berikan padaku uang yang aku berikan kepada engkau dahulu untuk disimpan."
Kemudian isterinya pergi ke tempat dia menyimpan duit itu dan diikuti oleh suaminya dengan berhati-hati dia menghampiri tempat dia menyimpan duit itu dia membuka dengan membaca,"Bismillahirrahmanirrahiim." Ketika itu Allah S.W.T. menghantar malaikat Jibrail A.S. untuk mengembalikan duit dan menyerahkan duit itu kepada suaminya kembali.

Alangkah terperanjat suaminya, dia berasa bersalah dan mengaku segala perbuatannya kepada isterinya, ketika itu juga dia bertaubat dan mula mengerjakan perintah Allah, dan dia juga membaca Bismillah apabila dia hendak memulakan sesuatu kerja.

2.Kelebihan ayat kursi
Dari Anas bin Malik r.a. berkata, "Rasulullah S.A.W bersabda : Apabila seseorang dari umatku membaca ayat Kursi 12 kali, kemudian dia berwuduk dan mengerjakan solat subuh, nescaya Allah akan menjaganya dari kejahatan syaitan dan darjatnya sama dengan orang yang membaca seluruh al-Qur'an sebanyak tiga kali, dan pada hari kiamat ia akan diberi mahkota dari cahaya yang menyinari semua penghuni dunia."
Berkata Anas bin Malik, "Ya Rasulullah, apakah hendak dibaca setiap hari?"

Sabda Rasulullah S.A.W, " Tidak, cukuplah membacanya pada setiap hari Jumat."Umat-umat dahulu hanya sedikit sahaja yang mempercayai rasul-rasul mereka dan itu pun apabila mereka melihat mukjizat secara langsung. Kita sebagai umat Islam tidak boleh ragu-ragu tentang apa yang diterangkan oleh Allah dan Rasul. Janganlah kita ragu-ragu tentang al-Qur'an, hadis dan sunnah Rasul kita. Janganlah kita menjadi seperti umat yang terdahulu yang mana mereka itu lebih suka banyak bertanya dan hendak melihat bukti-bukti terlebih dahulu sebelum mereka beriman.

Setiap satu yang dianjurkan oleh Rasulullah S.A.W kepada kita adalah untuk kebaikan kita sendiri. Rasulullah S.A.W menyuruh kita mengamalkan membaca ayat Kursi. Kehebatan ayat ini telah diterangkan dalam banyak hadis. Kehebatan ayat Kursi ini adalah untuk kita juga, yakni untuk menangkis gangguan syaitan dan konco-konconya di samping itu kita diberi pahala.

Begitu juga dengan surah al-Falaq, surah Yasin dan banyak lagi ayat-ayat al-Qur'an yang mempunyai keistimewaannya. Setiap isi al-Qur'an itu mempunyai kelebihan yang tersendiri. Oleh itu kita umat Islam, janganlah ada sedikit pun keraguan tentang ayat-ayat al-Qur'an, hadis Nabi dan sunnah Baginda S.A.W. Keraguan dan was-was itu datangnya dari syaitan.


Tak seorangpun pendoa, melainkan ia berada di antara salah satu dari
tiga kelompok ini: kadang ia dipercepat sesuai dengan permintaannya,
atau ditunda (pengkabulannya) demi pahalanya, atau ia dihindarkan
dari keburukan yang menimpanya.
(HR. Imam Ahmad dan Al Hakim)

GOW AE

Rabu, 03 Februari 2010